Jumat, 22 April 2011

Hati Yang Berlubang (Sumpah bukan judul sinetron)

Setiap orang punya lubang di hatinya. Gue yakin itu. Lubang itu bukan cuma dari hal yang sifatnya cinta-cintaan tapi bisa juga dari pencapaian yang tidak berhasil. Sesuatu yang sangat diidamkan nanmun ga juga berhasil untuk didapatkan pastinya akan membuat seseorang penasaran. Buat yang lagi baca, sumpah, ini ga ada hubunganya sama setan. Bukan Pocong Mandi Goyang Pinggul bukan juga Kuntilanak Kesurupan. Maksudnya jangan takut dulu gitu. Tapi siapa sih yang bakal takut dengan Pocong yang bisa goyang?

Anywho, mereka yang penasaran itu akan terus membayangkan gimana rasanya ketika mereka bisa ngedapetin sesuatu yang mereka mau itu. Seperti apa rasanya ketika keadaan yang mereka bayangkan sesuai dengan kenyataan yang mereka dapat. Sebenernya ini dasar dari terciptanya lubang itu. Bukan dari barang yang ga berhasil didapat, tapi dari kenyataan bahwa harapan ga berubah jadi kenyataan. Sesuatu yang tidak berwujud terkadang emang lebih powerful untuk menggiring emosi seseorang ke suatu titik. Beberapa mungkin bilang bahwa mereka telah moved on. Mereka udah lupa tuh kalo mereka pernah menginginkan suatu hal dengan sangat. Silahkan ngomong sama tembok. Mungkin, belom ada satu kejadian slash situasi slash sebuah memento yang bener-bener bisa ngebangkitin atau mungkin bisa juga dikatakan membuka lubang yang menurut mereka udah mereka tutup. Padahal mah bukan ditutup tapi cuma dilapis pake kain tipis. Samar-samar masih akan tetap terlihat apa yang ada didalamnya.

Ketika ditilik lebih jauh lagi, menurut gue waktu aja ga cukup untuk menutup lubang tersebut. Waktu emang jadi penyembuh terbaik untuk beberapa luka. Tapi soal penutupan lubang ini, ga cuman waktu yang bisa nutup. Perlu sesuatu lebih dari itu. Buat gue, namanya adalah self-control. Ya, pengendalian diri kuncinya. Dengan mengendalikan diri, seseorang akan bisa melupakan sesuatu dengan cara ga membiarkan dirinya untuk mengingat. Dia juga akan membatasi dampak yang mungkin keluar dari tidak tertutupnya lubang tersebut supaya ga ngasih dampak negatif ke orang lain. At least, orang lain ga akan ngerasa terbebani dengan lubang yang masih terbuka itu. Mereka cukup tahu kita dalam keadaan sekarang dengan asumsi lubang itu udah lama tertutup. Cukup kita sendiri yang tahu sebesar apa lubang itu terbuka. Pengendalian diri ini gabisa terjadi dengan sendirinya. Namanya juga pengendalian diri, diri sendiri lah yang harus ngendaliin. Karena jika tidak, lubang itu akan terus ada. Menunggu hal-hal yang membuat lubang tersebut tercipta untuk kemudian datang kemabali dan menutup lubang tersebut. At this point, time isn’t the best healer. You are.

0 komentar:

Posting Komentar